Kamis, 27 September 2012

Bermain Jari & Mantra


Mari berkumpullah disini
Lalu jangan ragu hantarkanlah kedua telapak tanganmu disini
Mari sama-sama menyusunnya hingga bertingkat disini

Lalu ucapkalah mantra itu sebanyak jumlah telapak tangan kita
Setiap selesai mengucapkan mantra itu, bukalah
Bukalah selebarnya jangan kau tahan

Setelahnya...
Dengarlah tanya ku ini
Dan jawablah, jangan kau diam
Jawablah terus hingga jariku menyentuh tanah ini
Sebagai tanda keberhasilan jariku melewati himpitan jari kalian


Tumbu-tumbu blalang
Belalang minyak rom
Rom caka lele tom tom tom
Sembayang kapiten buka satu di bawah


NonaHana
Minggu, 091011 - 19.53 WITA

Menemui Ayah

Ajakanmu itu menyulitkanku. Kita baru akan ke kota itu seminggu lagi tapi ketika pintamu itu kau ungkapkan, seketika jantungku berdetak cepat. Kau tahukan apa yang terjadi bertahun-tahun kala itu?
Keberadaan aku yang tidak ia anggap, hidupku yang terlantar tanpa sedikitpun rasa iba dia berikan. Dalam kartu keluarga, namaku tertulis sebagai anak ke empat (sang anak bungsu), tetapi hari-hariku bagai orang asing baginya. Pertanggungjawaban seorang ayah dalam bentuk menafkahi anaknya tidak ia lakukan. Entah apa yang salah dengan keberadaanku. Aku, dia perlakukan beda dari yang lain.

Hanya satu yang ku syukuri saat itu, karena aku bertemu denganmu. Kau bagai malaikat yang Tuhan kirim untuk berada pada masa sulitku. Tapi sayang bisakah kita tunda pintamu ini?

***

"Sayang, dah siap??" Tanya Vina
"hah?? itu apa?" balasku bertanya
"Sedikit oleh-oleh untuk ayah, pasti dengan kondisinya saat ini, telur, beras, mie instans ini sangat penting untuknya"
"Untuk apa kau belikan itu?!"
"Sayang, kalau kau bersikap yang sama, apa bedanya kau dengan ayah? Ingat, bagaimanapun dan apapun yang sudah terjadi, ia tetap ayahmu"

Tanpa banyak kata, aku menyetujui niat istriku.

Jujur, ini tak mudah bagiku. Aku akui, kalau diam-diam aku sering bertanya pada orang yang mengetahui keberadaan ayah. Diam-diam aku menangis dalam ketetapanku untuk tak mau berhubungan lagi dengannya. Dalam keacuhanku, dalam kebencianku, ingin sekali memperkenalkannya kepada anakku kalau dialah ayahku, dan dapat kau panggil dia Opa.
Senang melihat kehangatan keluarga istriku, ketika kami berkumpul, ada suasana yang sebenarnya aku pun rindu itu terjadi pada keluargaku.

"sayang..." Sapa Vina
"Iya..." Jawabku
"Pasti bisa dilewati dengan baik"

Mendengar kata itu, cukup membuatku sedikit tenang. Ya paling tidak ada Vina, sang penolong yang Tuhan bri dalam hidupku. Sang malaikat pemberian Tuhan sejak masa tersulitku kala itu hingga akhirnya sukses dapat ku genggam.

***

"Yah, besok jangan lupa berobat ya. maaf tidak bisa mengantar, karena besok harus kembali" kataku lembut
"Iya tidak apa-apa, ayah bisa sendiri" Jawab ayah
"pulang dulu ya yah" pamitku sambil memberi rangkulan pada ayah
"Ayah kami pulang" sambung Vina

Ini ke sebelas kalinya aku menemui ayah. Perlahan namun pasti, aku mulai terbiasa untuk mengunjunginya setiap kali aku berkunjung kekota ini. Dan benar kata Vina, lama kelamaan aku akan merasakan langkah kaki yang mulai lebih ringan. Tidak lagi merasakan sesak ketika ingatan tentang masa itu muncul. Dan seperti hari ini, ada rasa yang beda ketika akhirnya aku merangkulnya, setelah sekian lama aku lupa bagaimana seharusnya hubungan seorang anak dan ayah itu terjalin.

Ya... sekejam apapun dia saat itu, dia tetap ayahku. Dan Lihatlah betapa miripnya wajahku dengan wajah ayah



By NonaHana
130711 - 22.37 WITA

Senin, 16 Juli 2012

Bunga Rumput

Memang tak seperti mawar, pula tak seperti melati yang menebar aroma khas. Hanya begini saja, tapi mata dipuaskan dalam pesona kesederhaannya...

Cabut saja hari ini, esok atau kapan pun akan kembali tumbuh.
Liar...???
begitulah ia... Tapi tak perlu takut sakit karena duri, pun aromanya yang tidak khas tak perlu membuatmu malu akan baumu sendiri
150712 - NonaHana

Balon

Akan segera pecah setelah kau meniupnya. Berapa lama, tak perlu kau hitung. Nikmati saja bermain dengannya. Nikmati ceria yang ditawarkan dan kejutan khas bila pecahnya menyapa telingamu.



Dari Google
150712 - NonaHana

Sabtu, 07 Juli 2012

Bersama Intang

Akhirnya malam ini hujan tidak turun menyapa malam yang selalu ku nanti.
Lalu sebuah rencana seperti malam-malam itu akan segara ku lakukan lagi. Setelah rutinitas bermusik ini selesai, setelah kantong ini lumayan penuh dan memenuhi target, akan segera ku lakukan.

"Sepertinya sudah cukup ini... hemmm lumayan malam ini lebih seribu lima ratus, Itang aku datang..!!" kataku dengan semangat.
Lalu dengan segera mengambil kantong plastik yang sempat ku titipkan pada bu Ratih, sang pemilik kios kecil di ujung jalan Sudirman. Isinya bukan apa-apa, hanya sebuah tumpukan kertas yang masih bisa ku jadikan buku karena masih terdapat sisi yang kosong dan juga sebuah pensil merah yang pernah ku temukan di dekat tong sampah.

***

Akhirnya sampai juga. Langkah kaki ini semakin semarak seperti gejolak rinduku pada Itang. Sudah tiga hari ini, aku tak menemuinya karena hujan.
"Hah.... selamat malam Itang...!!" Sapaku semangat sambil mengambil posisi nyaman dimana aku bisa lebih jelas memandangnya.
"Maaf tiga hari ini aku tak mengunjungimu dan kau tahu itu karena hujan. Toh kalau pun aku datang, kau tetap tak bisa ku jumpai. Tapi tenang Itang, aku sudah menuliskan cerita apa saja yang terlewatkan selama 3 hari ini." Lanjutku sambil memberikan senyuman seolah merayu, lalu mulai membacakannya.

"Itang, hari pertama itu karena hujan lebat seharian, aku tak bisa dapat banyak dan sialnya lagi-lagi pria dewasa itu datang dan sempat merogoh-rogoh lagi tang. Aku takut kalau aku teriak, kau ingatkan kejadian sebulan yang lalu? karena mencoba berteriak kemudian ia menyisakan goresan pada betisku. Hemmm... Oh ya Itang dihari kedua, ada ibu-ibu datang nyamperin terus kasih aku sebungkus nasi. Kali ini bukan rombongan seperti biasa. Ibu itu datang, terus bicara sebentar, lalu pergi begitu saja. Tapi aku suka sekali dengan senyumnya, entah kenapa aku merasakan sesuatu yang beda. Dan setelah ibu itu pergi, sempat terlintas apakah ibuku itu seperti itu?. Tapi aku rasa tidak, karena tidak mungkin ia meninggalkan aku begitu saja. Ingatkan bagaimana ibunya Rani, Iwan, apalagi ibunya Sarah."
Entah kenapa sampai pada cerita ini, dadaku sesak sekali. Tapi aku harus segera menyelesaikan ceritaku ini, " Itang, hehehehe... aku ingin menangis, tapi tenang saja akan ku ceritakan sampai selesai. Kemarin, aku bertemu Eko, dia menggandeng Rani. Emmm... aku akhirnya tahu bagaimana rasanya cemburu tang...!! Tapi tak apa, hari ini aku bisa menyapamu itu sudah lebih dari cukup."
Menyapu air mata yang kemudian mengalir hebat di pipi sambil memasukkan kembali kertas itu kedalam plastik.
"Itang... emmmm... Itang... di di di si i i ni se se se sak...!." Kataku dengan terbata-bata karena menahan teriakan yang sudah didahului dengan derasnya derai air mata.
"Itang terima kasih ya selalu menemaniku. Kau harta berharga untukku. Aku harus segera pulang, besok aku tidak bisa datang dan mungkin seminggu, tapi semoga aku bisa menemui, atau paling tidak bisa memandang jelas wajahmu walaupun bukan disini aku memandangnya. Aku pulang ya Itang, AKU SAYANG KAMU!!"

Itang, sapaan ku untuk bintang selama tiga tahun ini. Tiga tahun yang lalu, aku pernah tergopoh-gopoh dengan memar dikaki, lalu karena tak kuat aku beristirahat disitu, di tempat aku duduk tadi. Mata ku yang bengkak terpesona dengan bintang malam itu dan aku melihat jejeran bintang yang tersenyum padaku. Lalu malam itu aku beranikan diri untuk bercerita padanya, tentang kelakuan Geteng. Malam itu yang ke tiga kalinya Geteng menjamah tubuhku. Dulu Geteng adalah harapan untukku tapi entah kenapa ia pun suka sekali memukulku. Aku pikir ia benar-benar mencintaiku. Seorang Pria dewasa. Aku sempat merasa nyaman dengannya. Tapi beruntung malam itu adalah malam terakhir, karena seminggu kemudian Ia mati tertikam musuhnya.
Hemmm... malam terakhir dan awal untukku, yang akhirnya bertemu Itang. Sebelumnya aku sudah pernah bertemu, tapi malam dengan senyum Itang itu, jadi awal aku merasakan bahwa bintang bukan hanya perhiasan yang kupunya pada malam hari, bukan hanya sekedar harta yang bisa sedikit ku banggakan dari keberadaanku. Walaupun aku tahu bintang itu bukan hanya untukku.
Sejak malam itu, aku selalu bersyukur karena aku punya Itang. Walaupun setiap kali aku berjumpa dengannya, aku harus berada ditempat yang sangat menyengat bau busuknya, karena berjarak 3 meter dari situ ada TPS. Tapi biarlah bau, yang penting aku bisa dengan nyaman berada disini, tanpa ada yang mengganggu. Memang kata orang-orang ada tempat lain yang jauh lebih menarik, tapi terlalu jauh, sedangkan aku hanya punya waktu sebentar untuk bisa menemui Itang.
"Tuhan, seminggu ini aku tak akan bertemu Itang, kalau boleh, nanti ketika aku bisa menemuinya, jangan hujan ya..., atau jangan mendung ya Tuhan, karena aku akan bercerita lagi padanya." Doaku dalam hati sambil berjalan cepat, karena kalau telat pulang, bisa-bisa memar lagi badanku.



NonaHana
010811 - 21.57 WITA

Rabu, 16 Maret 2011

Perjalanan Itu…



Dan akhirnya, untuk pertama kalinya diawal 2011 saya bisa merasakan sensasi dari kereta api… :p 
Awal kereta melaju, seketika saya mulai merasa kurang nyaman… ketika saya harus mendengarkan suara roda dan rel kereta yang mengganggu, ketika kereta ini mulai berjalan tapi saya tidak bisa melihat roda itu melekat pada relnya… dan seketika itu juga muncul sebuah ketakutan…
Suara bising dari roda membuat saya merasakan seolah-olah roda ini akan terlepas dan semuanya terhempas dan akan berakhir pada sesuatu yang tragis…
Sempat berpikir bahwa saya tidak akan bisa memejamkan mata karena begitu merasa tidak nyaman dan ketakutan.
Sampai akhirnya rasa ngantuk pun mulai menguasai… dan mencoba untuk memejamkan mata dan mencoba untuk menikmati perjalanan. Dan ternyata dalam waktu yang tidak lama, saya pun mulai bisa mengontrol ketakutan saya dan akhirnya saya bisa juga tidur.

Setelah sampai di tempat tujuan yaitu Surabaya, perjalanan saya tidak berhenti disitu, untuk sampai di kampung halaman saya harus kembali melakukan perjalanan dengan menggunakan pesawat untuk bisa sampai di Kupang.
Walaupun ini bukan yang pertama, tapi ini pun juga cukup memunculkan ketakutan yang bermain hebat di kepala saya. Saya bisa merasakan pesawat tinggal landas, saya bisa merasakan pesawat ini goyang karena cuaca yang kurang bersahabat. Tapi kembali lagi, mau tidak mau saya harus melawan ketakutan yang mulai muncul…

Dan perjalanan 1 jam 45 menit sempat membawa saya kepada sebuah perenungan yang sangat dalam.

Inilah yang akan membedakan… kalau saya biasanya menggunakan alat transportasi seperti motor atau mobil, mungkin itu tidak akan terlalu mengganggu saya… karena saya tahu persis kalau bannya melekat dekat dengan jalan, bahkan saya bisa “mengontol” kendaraan itu sehingga kecil kemungkinan untuk saya “tidak mengetahui” apa-apa. Tetapi akan sangat berbeda saat saya harus menggunakan pesawat, kapal dan kereta api.
Dan sebagai orang yang cukup parno-an, ini pun akhirnya cukup menggangu perjalanan saya.

Karena saat itu perjalanannya malam, maka saya tidak bisa melihat apa-apa, yang terlihat hanya cahaya dari petir.
Walapun saya tahu tidak akan melihat apa-apa tetapi mata sering kali mencoba menatap keluar jendela.
Dan terpikirkan bahwa hey… itulah yang sering terjadi…
Seringkali saya takut, bingung, cemas… dan itu terjadi karena saya tidak melihat secara jelas apa yang ingin saya lihat dan ketahui… karena bagi saya semuanya akan terasa aman dan saya akan sangat percaya ketika saya bisa melihat secara langsung bagaimana proses perjalanan itu dan bahkan saya tahu serta dapat "mengontrol" akan semuanya...
Belum lagi kalau perjalanan itu disertai dengan cuaca yang tidak menentu, apa yang pernah saya dengar, lihat satu per satu seperti iklan yang lalu lalang, dan membuat saya mengira-ngira  mana yang akan terjadi saat itu.

Terlepas dari kecelakaan transportasi yang terjadi dengan segala penyebabnya… seharusnya saya bisa yakin, karena yang ada pasti sudah sangat professional, pasti sudah ada pengecekan terlebih dahulu, semua bagian pasti telah melakukan tugas mereka dan mereka itu pasti sudah sangat proffesional.
Alat transportasinya sendiri pasti sudah di desain sedemikian rupa dengan memperhitungkan banyak hal, sehingga pesawat bisa naik terbang padahal kita tahu bahwa ada yang namanya gaya gravitasi bumi dan tetap bisa menerobos cuaca yang kurang mendukung, kapal bisa tetap mengapung dan melaju ditengah ombak.

Dan sontak senyuman malu karena merasa tertampar hebat saat itu.
Yah… dari mulai sebelum bahkan sesudah saya ada di muka bumi ini, semuanya sudah diatur, saya sudah dan akan terus dilengkapi, pokoknya semuanya tentang hidup saya, sesepele apapun itu sudah diatur.
Hanya saja saya tidak perlu tahu bagaimana, sampai kapan dan lain sebagainya. percaya saja...! dan taat...! (fiiuuuhhh.... :P). mau mengikuti peraturan ketika sabuk pengaman diminta untuk dipasang, ketika diminta untuk mematikan alat komunikasi selama perjalanan dsb.
Lakukan bagian saya dan tidak usah pusing dengan hal-hal yang bukan "urusan" saya. 
Ketakutan mungkin akan selalu ada tetapi ketika memilih untuk tidak tinggal dalam ketakutan itulah yang menentukan.
Terus Belajar untuk menikmati dan percaya akan setiap proses hidup yang akan terus kita lewati seumur hidup… bahkan belajarlah untuk menikmati dikala itu begitu menyesakkan bahkan disaat mata seolah tak mampu memandang apa-apa karena ketidakmengertian kita.

Memang tidak gampang tapi pasti bisa!!


By
NonaHana
16 Maret 2011

Memainkan Perannnnn.....!!!

Hidup akan selalu memaksa ak dan kamu untuk memerankan berbagai peran…
Mau tidak mau,
suka tidak suka,
sengaja tidak sengaja,
peran itu harus segera dimainkan sampai pada akhir cerita…

aku dan kamu pun seolah boleh menjadi sutradara untuk setiap peran…
dan bagaimana kita menyutradarai peran itu juga akan menentukan kisah-kisah berikutnya…

kalau memilih peran yang gampang
bukan berarti setelah itu peran sulit itu tak akan ditemui
begitu juga sebaliknya…

yaaaa… itulah hidup…
aku...
kamu...
kita semua… ada untuk memainkan peran
dan kita bisa saja mengambil alih tugas sutradara sambil tetap berperan…
dan tetapharus mau menerima peran-peran selanjutnya untuk dimainkan


NonaHana 
Minggu… 20 Pebruari 2011
00.36 WITA